Blog Apdri

Beberapa catatan sederhana

Di Tepi Waduk Saguling

with 13 comments

Saguling dari satelit

Iseng-iseng lihat sekitar Bandung dari satelit lewat Google Map, tampak warna biru seperti akar pohon. Ternyata itu adalah perairan Waduk Saguling yang dikepung perbukitan di daerah Bandung Barat. Layak dicoba nih, apalagi belum pernah ke sana dan jaraknya dari Bandung relatif tidak terlalu jauh.

Selepas lalu lintas Bandung-Padalarang yang padat, masuk daerah perbukitan kapur Cipatat yang berliku. Naik motor lewat sini kalau jalannya sepi cukup mengasyikkan melibas tikungan demi tikungan.

Beberapa truk tua pengangkut kapur masih beroperasi, mungkin umurnya lebih tua dari usia saya.

Berkelok-kelok di Cipatat

Truk tua dan bukit kapur

Keluar dari Cipatat memasuki jalan sebagian besar lurus, yaitu jalan raya Rajamandala. Kira-kira 40 km dari Bandung nanti ada pertigaan yang cukup ramai sebelum sampai Ciranjang, belok kiri menuju PLTA Saguling. Sekitar 1 km setelah belok, di tengah perkebunan coklat, tampak pos masuk area Saguling.

Pertigaan jalan raya Rajamandala

Pos masuk area Saguling

Tanda jarak dan petunjuk arah menuju bendungan cukup jelas di pinggir jalan maupun setiap cabang jalan.

"DAM 17" tertulis di pal kilometer pinggir jalan

Bendungan Saguling ke kiri 15 km, Power House ke kanan 1 km

Pemandangan menuju waduk kelihatan asri. Sesekali bertemu sungai kecil dan mata air di pinggir jalan.

Sungai kecil sesudah perkebunan coklat

Kalau ada sumur di ladang, eh mata air di pinggir jalan...

Dari jauh tampak pipa kuning keluar dari perut bukit menuju Power House (pembangkit listrik) di dasar lembah.

Pipa air menuju Power House

Tertulis di tembok "Terowongan Inspeksi", buat apa ya?

Jalan selanjutnya menanjak ke atas bukit melalui hutan alam yang rimbun. Dari sela-sela pohon di ketinggian tampak pemandangan luas wilayah Rajamandala, dengan aliran sungai Citarum yang keluar dari Power House yang nanti dibendung lagi di waduk Cirata di kejauhan.

Wilayah Rajamandala, aliran sungai Citarum hingga waduk Cirata membiru di kejauhan (kiri atas)

Pada puncak bukit terdapat bangunan tegak yang bentuknya aneh. Di papan tertulis Tangki Pendatar Air (Surge Tank). Sepertinya air dari Bendungan Saguling ditampung dulu di sini, sebelum diterjunkan melalui pipa kuning ke Power House di bawah. Dari Tangki Pendatar Air, jarak ke bendungan masih sekitar 8 km lagi melewati daerah pertanian desa Saguling.

Tangki pendatar air (Surge Tank) di puncak bukit

Penggergajian kayu di desa Saguling

Menjelang waduk, ada pencabangan jalan. Tertulis di papan petunjuk, ke kiri adalah Intake dan lurus adalah DCC. Karena saya belum tahu apa maksudnya, saya ambil jalan ke kiri saja. Area Intake tidak terbuka untuk umum.

Jalan menjelang waduk

Intake ke kiri, DCC terus

Pemandangan waduk sebelum Intake

Area Intake, tidak boleh masuk

Bendungan dilihat dari arah Intake

Setelah puas memotret dari arah Intake, saya turun ke pinggir waduk melalui jalan offroad karena kelihatan perahu di bawah. Ternyata perahunya bocor dan karam. Tadi memang terlihat papan berisi larangan berenang, berperahu, dan menjala ikan.

Jalan offroad ke tepi waduk

Perahu karam, area Intake tampak di belakang

Sekarang ke cabang jalan menuju DCC. Ternyata DCC itu adalah Dam Control Center atau Pusat Pengendali Bendungan. Bendungannya sendiri berupa tanggul raksasa di antara dua bukit dengan jalan aspal di atasnya dan pintu air di ujungnya.

Gedung DCC (Dam Control Center)

Jalan di atas bendungan

Waktu saya ke sana pintu air tidak mengalirkan air. Mungkin di tengah musim hujan nanti ketinggian air akan naik, dan pintu dibuka agar tidak banjir melewati batas tanggul.

Pintu air menghadap waduk

Dasar bekas sungai Citarum yang kering

Lalu bagaimana air bisa sampai di Tangki Pendatar Air dan Power House yang tadi dilewati? Karena pintu air ditutup, sepertinya air keluar dari bendungan ini melalui area Intake. Dugaan saya begitu, karena antara bendungan hingga Tangki Pendatar tidak tampak sungai deras sama sekali. Barangkali melalui terowongan/pipa air di dalam tanah.

Sebelum pulang, mampir sebentar ke taman di sebelah gedung DCC untuk memotret monumen kecil di sana.

Apa ini ya? Replika dinding turbin?

Daftar pekerja yang meninggal tahun 1984-1985

About these ads

Written by apdri

3 Desember 2009 at 02:03

13 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren mas, bahasnya ringan dan bikin pengen ikut jalan-jalan.. saguling, tiap minggu kelewatan tapi gak pernah mampir.. kapan2 ikutan ah mas.. :D

    undz

    3 Desember 2009 at 12:06

    • boleh aja… tapi biasanya saya sering berhenti buat motret alias sampenya lama ke tujuan :)
      trims ya dah mampir…

      apdri

      3 Desember 2009 at 21:42

  2. wah banyak banget obyek di bandung, mas itu yang foto nyambung waktu ambil gambar pake tripod ya?

    Innori

    3 Desember 2009 at 12:57

  3. yup masih banyak obyek menarik yang belum dikunjungi…
    motretnya ga pake tripod sih, cuma sambil nengok digeser pelan-pelan trus hasilnya disambung-sambung pake photoshop :)

    apdri

    3 Desember 2009 at 15:06

  4. Baca postingannya serasa ikut jalan bareng. Ibarat bisa tengok kiri kanan melihat pemandangan (pdhl cuma liat foto). He..3x.. Thx sharingnya. Silahkan mampir ke http://WWW.BATUJAJARPULSA.BLOGSPOT.COM

    Naura

    8 Desember 2009 at 11:15

    • iya nih… sebenarnya sih agak lama memilih foto mana yang mau dipajang, banyak soalnya… :)
      trims dah mampir…

      apdri

      10 Desember 2009 at 00:07

  5. [...] perjalanannya menuju Waduk Saguling, ternyata aliran Sungai Citarum tidaklah mulus. Di daerah Pataruman, air terbendung oleh bebatuan, [...]

  6. Seharusnya aliran di sungai citarum itu kan deras mengapa tidak deras,apa karna di saat musim kemarau

    Frahan pratama

    31 Desember 2009 at 16:34

    • betul, aliran sungainya dibelokkan ke area intake gate, tidak lagi melalui bekas sungai Citarum yang asli di balik pintu air. Sepertinya tidak boleh mendirikan rumah/bangunan di bekas sungai kering itu, siapa tahu bendungan penuh lalu pintu air dibuka.
      Sayangnya tidak boleh masuk ke area intake gate untuk melihat derasnya air yang masuk ke terowongan airnya.

      apdri

      31 Desember 2009 at 22:43

  7. [...] yang ada di tempat terbuka seperti Curug Jompong atau Bendungan Saguling, dapat dilihat jelas dengan Google Maps, begitu pula jalan-jalan di daerah pinggir kota seperti [...]

  8. [...] tapi masih berdiri kokoh. Tidak ada arusĀ  sungai mengalir di bawah jembatan, hanya genangan waduk Saguling yang sampai kemari. Mungkin usianya sudah lebih dari seperempat abad, setua bendungan Saguling yang [...]

  9. salam kenal mas..
    wah, singkat-padat-jelas+menarik tulisannya.
    kebetulan lg penasaran dgn lokasi Saguling, terimakasih infonya.
    kebetulan kantor yg mau mengerjakan proyek Saguling Tahap II.
    *mudah2an ane masih diajak join, hehe.. :D

    fajr

    16 Juni 2011 at 08:27

    • salam kenal juga…
      semoga sukses proyeknya… :)

      apdri

      16 Juni 2011 at 11:49


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: