Tulisan ditandai ‘Garut’
Ke Pamengpeuk
|
Hari yang cerah, matahari hampir muncul dari balik bukit di kiri jalan menuju Nagreg. Sebagian sinarnya menerpa perbukitan Cicalengka di kanan, memberi rona keemasan. Tujuan hari itu adalah ke Pamengpeuk, sebuah pantai di Garut selatan, 150-an kilometer dari Bandung. |
Danau Pangkalan, Danau yang Hilang
|
Pulang dari Gunung Papandayan, sekalian lewat Kamojang, tidak melalui Garut seperti pada waktu berangkat. Di Bayongbong ambil arah kiri menuju Samarang. Jalannya beraspal halus, tapi tidak selebar jalan raya ke Garut. Gunung Cikuray tampak jelas sekarang, berbentuk segitiga dengan puncaknya yang runcing. |
Menyusuri Papandayan (bagian 2)
|
Hari mulai siang dan udara terasa mulai menghangat. Kabut pekat berangsur-angsur memudar, berlari pelan mengikuti hembusan angin. Dari Lawang Angin kembali menuruni jalan landai berbatu, tidak belok ke kiri masuk celah jalan setapak yang dilalui tadi pagi. Kali ini terus saja hingga tempat di mana tebing kiri dan kanan bertemu. |
Menyusuri Papandayan (bagian 1)
|
Papandayan cocok untuk trekking, jalan kaki ringan menyusuri jalan yang ada di sekeliling gunung. Kebanyakan jalurnya cukup landai, cocok untuk pendaki pemula. Pagi itu gerimis mengguyur ketika melewati jalan menanjak penuh lubang di Cisurupan, Garut selatan. Lapangan parkir masih sepi, pos penjaga hutan pun belum buka. Di balik punggung, cahaya matahari yang pucat berusaha menembus pekatnya kabut pagi. |
Santosa-Arjuna-Samudra (habis)
|
Setelah puas menikmati kebun teh terbuka sejak Kertasari hingga Cileleuy, sekarang sampailah pada bagian akhir dan terberat dari perjalanan ini, menuju Arjuna dan Samudra. Rimbunnya hutan membentang di belakang emplasemen Cileleuy. Kata penduduk yang saya tanyai, Cikajang masih jauh dan mesti menembus leuweung (hutan). Biarlah, sudah tanggung berjalan sejauh ini, mau balik juga jauh, mudah-mudahan sampai Cikajang sebelum gelap. |
Santosa-Arjuna-Samudra (bagian 3)
|
Setelah melalui pabrik Talunsantosa yang ada di lembah, jalan menanjak ke bukit dan masuk kompleks Sedep. Dua tempat ini berdekatan dan sama-sama memiliki pabrik teh yang besar. Di sebelah kanan pabrik teh Sedep ada beberapa rumah yang atapnya bercerobong. Mungkin jaman Belanda dulu tempat ini memang dingin sehingga perlu perapian dalam rumah. |





