Tulisan ditandai ‘Papandayan’
Menyusuri Papandayan (bagian 2)
|
Hari mulai siang dan udara terasa mulai menghangat. Kabut pekat berangsur-angsur memudar, berlari pelan mengikuti hembusan angin. Dari Lawang Angin kembali menuruni jalan landai berbatu, tidak belok ke kiri masuk celah jalan setapak yang dilalui tadi pagi. Kali ini terus saja hingga tempat di mana tebing kiri dan kanan bertemu. |
Menyusuri Papandayan (bagian 1)
|
Papandayan cocok untuk trekking, jalan kaki ringan menyusuri jalan yang ada di sekeliling gunung. Kebanyakan jalurnya cukup landai, cocok untuk pendaki pemula. Pagi itu gerimis mengguyur ketika melewati jalan menanjak penuh lubang di Cisurupan, Garut selatan. Lapangan parkir masih sepi, pos penjaga hutan pun belum buka. Di balik punggung, cahaya matahari yang pucat berusaha menembus pekatnya kabut pagi. |
Santosa-Arjuna-Samudra (bagian 3)
|
Setelah melalui pabrik Talunsantosa yang ada di lembah, jalan menanjak ke bukit dan masuk kompleks Sedep. Dua tempat ini berdekatan dan sama-sama memiliki pabrik teh yang besar. Di sebelah kanan pabrik teh Sedep ada beberapa rumah yang atapnya bercerobong. Mungkin jaman Belanda dulu tempat ini memang dingin sehingga perlu perapian dalam rumah. |
Santosa-Arjuna-Samudra (bagian 1)
|
Nama-nama tempat ini sepertinya tidak biasa. Mengapa memakai nama tokoh wayang seperti Arjuna? Kenapa dinamai Samudra padahal tempatnya di tengah pegunungan? Terlepas dari itu semua, inilah tempat-tempat yang tercantum di peta pada jalur mengitari gunung Papandayan. Rute yang saya pilih adalah ke selatan menuju Ciparay, melalui area persawahan yang luas di daerah Sapan. Suasananya lengang dan segar, meskipun jalan tidak semuanya mulus. |



