Blog Apdri

Beberapa catatan sederhana

Santosa-Arjuna-Samudra (bagian 3)

with 7 comments

Masuk Kebun Sedep

Setelah melalui pabrik Talunsantosa yang ada di lembah, jalan menanjak ke bukit dan masuk kompleks Sedep. Dua tempat ini berdekatan dan sama-sama memiliki pabrik teh yang besar.

Di sebelah kanan pabrik teh Sedep ada beberapa rumah yang atapnya bercerobong. Mungkin jaman Belanda dulu tempat ini memang dingin sehingga perlu perapian dalam rumah.

Pabrik Sedep

Rumah-rumah bercerobong

Hujan mulai mengguyur dan waktu memakai jas hujan, ban belakang terasa kempes. Terpaksa motor dituntun dan ditambal dulu dekat situ. Menurut tukang tambal ban, Cikajang masih jauh, sekitar 3 jam naik motor. Sekarang jam dua siang, bisalah sampai Cikajang sebelum magrib (ternyata nanti perkiraan saya meleset, untuk mencapai Cikajang butuh waktu lebih lama).

Mulai turun hujan di Sedep

Jalan atau sungai?

Keluar dari kompleks Sedep, kembali ke jalan berbatu dan sampai di pertigaan, Cibaturua dan Kendeng ke kiri,
Cisarua ke kanan. Saya ambil cabang ke kiri dan sampai di emplasemen Kendeng. Emplasemen mungkin berarti perumahan pegawai kebun teh yang jauh dari pabrik.

Pertigaan ke Kendeng & Cibaturua

Emplasemen Kendeng

Dari atas emplasemen Kendeng

Keluar dari Kendeng, dari atas bukit pemandangan terhampar luas ke arah Cibaturua di kejauhan. Mestinya gunung Papandayan kelihatan dekat dari sini, sayangnya tertutup kabut.

Tulisan di tugu: kawah Papandayan ke kanan

Jalan baru diaspal

Pemandangan lepas ke Cibaturua (kanan)

Menuju Cibaturua, jalan sedang diperbaiki

Jalan di Cibaturua sangat lebar.  Ada bangunan seperti pabrik di kanan jalan, tertutup pepohonan.
Kata orang, dari Cibaturua ini ada jalan ke Pengalengan, tetapi saya belum pernah melaluinya naik motor.

Jalan Cibaturua yang lebar

Pabrik teh Cibaturua (?)

Pemandangan setelah Cibaturua tidak kalah mengesankan. Sunyi, hampir tidak ada orang lewat, namun indah.

Sesudah keluar dari Cibaturua

Pegunungan di kanan jalan

Sunyi tapi indah

Sebelum pertigaan ke Cileleuy

Pilih jalan tanah atau batu?

Emplasemen Cileleuy dimasuki tak lama kemudian. Inilah batas dari kabupaten Bandung dan Garut.
Andai saja jalannya sehalus kebun teh Rancabali atau Sinumbra, mungkin lebih banyak orang berwisata kemari.

Menjelang Cileleuy

Papan biru: selamat datang di emplasemen Cileleuy

Bersambung sekali lagi...

Written by apdri

31 Desember 2009 pada 02:38

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. cakep2 nech photo2nya

    Innori

    15 Januari 2010 at 14:35

    • sayang musim hujan, banyak kabut…🙂

      apdri

      17 Januari 2010 at 00:04

  2. Keren juga nih buat di explore..rute masuknya dari mana kalo dari Bandung ?

    Acep Permana

    21 September 2010 at 09:34

    • dari Bandung bisa lewat Ciparay – kebun teh Kertasari – Cibaturua, atau lewat Pengalengan – kebun teh Malabar – Cibaturua.
      dari Cileleuy bisa lanjut mendaki ke kawah Papandayan lalu turun di Cisurupan Garut…
      jalur-jalur di sini tidak jelas petunjuk jalannya, mesti bertanya ke penduduk sekitar🙂

      apdri

      22 September 2010 at 01:58

      • Gak sengaja nih buka-buka lagi blognya jadi inget dulu ke Papandayan dengan rute ini

        thedy

        5 Februari 2013 at 09:33

        • waktu saya ke Papandayan dari arah Cisurupan, inginnya sih melihat kebun teh Cileleuy dari atas, tapi ternyata jalan kakinya jauh dan akhirnya kembali ke kawah dan tempat parkir…🙂

          apdri

          7 Februari 2013 at 10:48

          • mantap bro jadi pingin kesana…..mengenang masa lalu

            koswara

            24 Maret 2016 at 07:35


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: