Blog Apdri

Beberapa catatan sederhana

Menyusuri Papandayan (bagian 1)

with 7 comments

Jalan gerimis ke Papandayan

Papandayan cocok untuk trekking, jalan kaki ringan menyusuri jalan yang ada di sekeliling gunung. Kebanyakan jalurnya cukup landai, cocok untuk pendaki pemula.

Pagi itu gerimis mengguyur ketika melewati jalan menanjak penuh lubang di Cisurupan, Garut selatan. Lapangan parkir masih sepi, pos penjaga hutan pun belum buka. Di balik punggung, cahaya matahari yang pucat berusaha menembus pekatnya kabut pagi.

Pos penjaga hutan

Mulai trekking dari lapangan parkir

Matahari pagi yang pucat ada di belakang punggung

Menyusuri pinggir sungai, bebatuan berwarna-warni

Berjalan terus mendekati kawah, kabut semakin tebal. Pandangan terbatas hanya beberapa puluh meter ke depan. Suara desis kawah nyaring terdengar di lembah sebelah kiri. Tidak tampak apa-apa selain kabut dan asap putih. Beberapa lubang mengeluarkan uap panas belerang, berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghangatkan badan.

Uap panas belerang

Tertulis: Balagadama (Balagadama Crater)

Lubang-lubang kawah mengepulkan asap

Angin dari lembah berhembus naik, bercampur dengan aroma belerang yang keras menusuk hidung dan memerihkan mata. Tidak mau berlama-lama di situ, saya mencari-cari jalan setapak di tengah kabut dan sampai di balik punggung kawah. Suara gemuruh kawah berangsur lenyap dan berganti dengan kesunyian.

Terus berjalan di tengah kabut

Jalan setapak, ke kanan atau terus?

Lurus ternyata jurang buntu

Balik lagi, ambil jalan setapak ke lembah

Menembus pepohonan yang kayunya menghitam dan semak pakis, ketemu sungai yang jernih.

Bening sekali airnya, pasirnya berwarna krem seperti di pantai

Ada kolam alam selebar 3 meteran, asyik buat berendam, tapi dingiiin

Di seberang sungai, sekarang saatnya menanjak. Deru suara sungai terdengar di sebelah kiri, tapi tidak kelihatan apa-apa selain kabut.

Tanjakan setelah menyeberangi sungai

Celah rimbun berbatu

Muncul di jalan pinggir tebing

Tumpukan batu penghalang jalan

Mungkin jalan berbatu ini dulunya bisa dilalui mobil, tapi sekarang tidak lagi. Jalannya landai menanjak dengan jurang di sebelah kanan.

Celah Lawang Angin

Lapangan terbuka berlatar hutan

Jalan mulai landai menurun

Tumbuhan liar hutan

Bunga edelweis

Agak lama menelusuri jalan landai, berharap melihat kebun teh Cibatarua atau Cileleuy dari atas ketinggian. Ternyata jaraknya masih jauh, dan akhirnya saya kembali ke Lawang Angin. Bersambung…🙂

Written by apdri

8 Juni 2010 pada 13:10

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pendaki

    10 Juni 2010 at 00:16

    • ini gunung terkenal lho, sempat ketemu orang bule waktu saya ke sana… trims sudah mampir…🙂

      apdri

      10 Juni 2010 at 02:43

    • sepertinya saya 23 tahun yg lalu, setiap bulan agustus selalu tracking ke papandayan beramai2 dgn para karyawan dan staf perkebunan kertasari PT. Lonsum…. rindu juga…. soalnya papandayan daerah nomor 1 cuaca paling dingin… I miss you…

      Pian Apriansyah

      2 Desember 2011 at 21:57

  2. Jadi inget pas mendaki gunung papandayan 2622 MDPL http://rempakem.wordpress.com/koleksi-foto/

    Marakew

    11 Juni 2010 at 12:42

    • wah di foto itu sepertinya lengkap banget bekalnya, ranselnya besar-besar…🙂

      apdri

      11 Juni 2010 at 14:19

  3. […] Lawang Angin kembali menuruni jalan landai berbatu, tidak belok ke kiri masuk celah jalan setapak yang dilalui […]

  4. […] indah, tidak salah kalau mendapat sebutan Swiss van Java. Sayangnya, tidak dapat view ke gunung Papandayan, mungkin terhalang bangunan kota atau memang gunungnya tertutup […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: