Blog Apdri

Beberapa catatan sederhana

Menyusuri Papandayan (bagian 2)

with 8 comments

Area kawah di kejauhan dilihat dari Lawang Angin

Hari mulai siang dan udara terasa mulai menghangat. Kabut pekat berangsur-angsur memudar, berlari pelan mengikuti hembusan angin.

Dari Lawang Angin kembali menuruni jalan landai berbatu, tidak belok ke kiri masuk celah jalan setapak yang dilalui tadi pagi. Kali ini terus saja hingga tempat di mana tebing kiri dan kanan bertemu.

Menelusuri jalan landai berbatu

Dulu mungkin ada jembatan di sini

Ingin tahu apa yang ada di hulu sungai, saya berjongkok dan memandang pohon-pohon di depan itu. Ternyata ada sebuah air terjun tersembunyi ! Dengan berhati-hati turun ke sungai, memotret air terjun, lalu memanjat naik ke pinggir sungai di seberang.

Air terjun tersembunyi

Meninggalkan sungai

Jalan setapak sekarang tidak jelas, kebanyakan di atas rumput. Di sebelah kanan tebing dan di sebelah kiri jurang sungai, sepertinya jarang dilewati orang.  Tidak lama kemudian terpotong oleh jurang buntu, terpaksa turun ke lembah di sebelah kiri, berjalan melingkar dan naik lagi di lembah sebelah sana.

Jurang buntu, terpaksa cari jalan setapak turun ke kiri

Tebing longsor yang memutus jalan landai

Lawang Angin (kanan atas), sebelum kembali ke kawah

Mendekati kawah, suara gemuruhnya terdengar semakin jelas dan uap belerang yang putih naik ke udara.

Memasuki area kawah

Uap belerang naik tertiup angin lembah

Bentangan kawah Papandayan sangat luas, tidak semuanya masuk di kamera

Sinar matahari mulai condong, saya beranjak ke lapangan parkir. Waktu setengah hari tidaklah cukup untuk menelusuri semua jalur di gunung ini.

Kota Garut dari atas ketinggian

Memotret Papandayan terakhir kali sebelum sampai di lapangan parkir

Suatu hari mungkin ke sini lagi...🙂

Written by apdri

18 Juni 2010 pada 02:32

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] dari Gunung Papandayan, sekalian lewat Kamojang, tidak melalui Garut seperti pada waktu […]

  2. pengennnn . . .
    :))

    Fitri Apriliani

    4 Januari 2011 at 03:29

    • trims sudah mampir🙂
      Kalau hiking ke Papandayan, mesti pake sepatu yang pas & nyaman… pagi itu hujan dan sepatu basah dipakai jalan terus, kaki jadi lecet.
      Di lapangan parkir ada pemandu/guide yang bisa mengantar menjelajahi jalan setapak ke kawah yang tersebar, melihat matahari terbit, padang edelweiss…

      apdri

      4 Januari 2011 at 04:09

      • ooh gtu ya . .
        nanti pemandunya nganterin kita sampai puncak ka ?

        Fitri Apriliani

        13 Januari 2011 at 10:08

        • bisa… ada beberapa rute.
          Untuk melihat matahari terbit, sekitar jam 5 pagi mulai jalan kaki dari lapangan parkir ke arah kawah lalu belok kanan mendaki bukit yang coklat-merah itu (gambar kedua dari bawah). Waktu cuaca cerah akan tampak gunung Cikuray, di kejauhan ada gunung Ciremai (Cirebon-Kuningan), Slamet (Jateng).

          Kalau punya waktu full dari pagi sampai sore bisa saja diteruskan menjelajahi kawah, mendaki ke padang edelweiss, lalu berputar menyusuri punggung bukit sebelah kiri kemudian turun di lapangan parkir (yang ini saya belum pernah)…🙂

          apdri

          13 Januari 2011 at 10:33

  3. Kalo ga salah ada jalan tembus ke daerah gurumukti (pangalengan) lewat panawa, tapi itu jalur ga tau masih ada apa udah ilang….

    Rizki Herdyan

    6 Maret 2011 at 06:40

    • mungkin saja ada jalur dari kawah ke Panawa, karena Panawa ada di lereng barat-daya Papandayaan (kiri bawah). Adapun jalan yang ditempuh hari itu adalah dari arah Cisurupan (kanan atas) ke arah kawah (tengah) lalu ke kebun teh Cileleuy (kiri atas) …

      Bagian tengah ke selatan (bawah) tampaknya ada dataran yang luas memanjang (mungkin itu Tegal Alun), lalu ada tanah yang putih sekali, dan juga bekas kawah lama yang tertutup pepohonan…

      apdri

      6 Maret 2011 at 15:37

  4. Wah jadi inget dulu, saya pernah naik motor sampai bibir kawah lewat rute Pangalengan – Cibutarua (lewat daerah Pasir Junghun). Deket kawah jalannya off road, untung bisa sampai. Padang edelweiss akan dicapai jika kita memakai jalan setapak sebelum masuk kawah ke kanan, tapi kabar terakhir sudah rusak karena letusan,mungkin jalannya pun gak tau masih ada atau enggak. Terima kasih Kang sudah mengingatkan kembali nostalgia lama….

    thedy

    22 September 2011 at 07:50


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: